14 - 24 September 2017

ICE - BSD CITY

Inovasi Pertanian Perkotaan



Pertanian perkotaan, atau yang populer disebut dengan istilah Urban Farming, adalah kegiatan yang memanfaatkan lahan atau ruang untuk memproduksi hasil pertanian di wilayah perkotaan.

Meski konsep dari pertanian perkotaan adalah memindahkan pertanian konvensional ke wilayah perkotaan, namun perbedaan ada pada pelaku dan media tanamnya. Pertanian konvensional lebih berorientasi ke hasil produksi, sedangkan pertanian perkotaan untuk mendukung gaya hidup masyarakat urban yang telah menyadari pentingnya kesehatan.

Kemudahan penyediaan pangan sehat adalah salah satu manfaat pertanian perkotaan. Berbagai macam sayuran seperti bayam, kangkung, sawi, selada, pakchoy, kemangi, serta umbi-umbian seperti ubi, ketela, singkong, dan talas, menjadi produk pertanian yang mudah dan murah untuk diakses oleh warga perkotaan.

Selain itu manfaat yang juga bisa dirasakan langsung adalah pengurangan pengeluaran untuk belanja kebutuhan dapur. Bahkan bisa menambah pendapatan bagi pelaku yang mengusahakannya, karena hasil panen dapat dijual. Manfaat lainnya adalah lingkungan perkotaan menjadi hijau, sehat, asri, serta menambah estetika.      

Memproduksi hasil pertanian di wilayah perkotaan sudah mulai marak dilakukan. Hal ini didukung juga dengan adanya inovasi teknologi pertanian perkotaan oleh instansi yang berwenang di sejumlah kota besar di Indonesia. Inovasi tersebut menghasilkan metode-metode seperti sub sistem budidaya, sub sistem peternakan, sub sistem perikanan dan sub sistem composting untuk mendukung kegiatan pertanian perkotaan. 

Sub Sistem Budidaya merupakan cara memproduksi tanaman dengan menggunakan beberapa teknik yang meliputi :

-        Vertikultur atau teknik budidaya secara vertikal untuk mensiasati keterbatasan lahan, terutama dalam rumah tangga.

-        Hidroponik atau teknik budidaya yang memanfaatkan air sebagai media tanam.

-        Aquaponik atau teknik budidaya tanaman yang diintegrasikan dengan budidaya hewan air, seperti ikan, udang, atau siput. Ada juga teknik vertiminaponik yang merupakan kombinasi dengan teknik budidaya vertikal.

-        Wall gardening, termasuk teknik budidaya vertikal yang memanfaatkan tembok atau dinding sebagai tempat modul pertanaman. Teknik ini sangat popular untuk membudidayakan tanaman hias.

Sub Sistem Peternakan, atau kegiatan produksi ternak di wilayah perkotaan. Mungkin ternak yang dianggap paling mudah karena paling popular adalah unggas seperti ayam. Tapi ada aturan ketat mengenai ternak unggas yang terkait masalah kesehatan. Maka alternatif ternak yang sesuai untuk di wilayah perkotaan adalah Kelinci. Daging kelinci mengandung protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan daging ayam, sapi, domba, serta  tidak memerlukan areal yang luas.

Sub Sistem Perikanan, yang merupakan pengelolaan sumber daya perairan yang dapat dibudidayakan di perkotaan, antara lain ikan air tawar dan ikan hias. Metode dan teknik yang tersedia antara lain:

-        Integrasi ikan dan tanaman. Metode yang disebut dengan sisitem aquaponik.

-        Sistem Terpal untuk pembuatan kolam. Cara ini tidak memerlukan penggalian tanah, sehingga kontrol, pembersihan, dan pemanenan lebih mudah.

Sub Sistem Komposting, atau penyediaan pupuk pendukung budidaya. Ketersediaan limbah organik yang melimpah di perkotaan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organic melalui teknik pengomposan. Tekniknya meliputi:

-        Vermikompos. Proses pengomposan dengan memanfaatkan cacing sebagai agen pengomposan.

-        Heap. Metode pengomposan dengan sistem penumpukan bahan berkayu dan tidak dicampur dengan sisa makanan karena dapat mengundang lalat.

-        MOL (Mikroorganisme Lokal). Memanfaatkan limbah dapur dengan memisahkan bahan berlemak seperti daging, dan ikan.

Tags: urban farming, future city,indonesia future city