14 - 24 September 2017

ICE - BSD CITY

Memperoleh Kembali Manfaat dari Sampah



Pengelolaan sampah pada masyarakat perkotaan semakin lama semakin bertambah kompleks sejalan dengan semakin kompleksnya masyarakat itu sendiri. Dibutuhkan keterlibatan beragam teknologi dan disiplin ilmu untuk mengelolanya. Termasuk di dalamnya seperti teknologi untuk  mengontrol timbulan (generation), pengumpulan (collection), pemindahan (transfer), pengangkutan (transportation), pemrosesan (processing), dan pembuangan akhir (final disposal) sampah

Selama ini pengelolaan sampah yang hanya mengandalkan proses kumpul-angkut-buang ternyata menyisakan banyak permasalahan, antara lain ketersediaan lahan untuk pembuangan akhir yang terbatas. Sehingga salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan reduksi volume sampah. Konsep daur ulang adalah salah satu solusi yang dapat dipertimbangkan, sehingga nilai ekonomis yang masih terkandung di dalam sampah dapat kembali dimanfaatkan.

Sampah sebetulnya menyimpan energi yang dapat dimanfaatkan dengan cara (a) menangkap gasbio hasil proses degradasi secara anaerobik, (b) menangkap gas bio yang terbentuk dalam landfill, dan (c) menangkap panas yang keluar sebagai hasil pembakaran (insinerasi). Penelitian lain, misal di negara industri seperti Amerika Serikat, adalah pembuatan alkohol dari sampah organik.

Produk akhir proses anaerob adalah pembentukan gas metan (CH4). Bila proses ini terjadi pada timbunan sampah (landfill), akan menimbulkan bau khas sampah yang membusuk. Bila tahap ini dipersingkat dengan konversi menjadi metan, maka beban organik akan berkurang. Cara ini digunakan dalam accelerated landfilling. Dari 1 m3 gas bio yang mengandung gas metan 50%, akan terkandung energi 5500 Kcal, yang kira-kira setara dengan 0,58 liter bensin atau setara dengan 5,80 KWh listrik.

Alternatif penanganan sampah adalah insinerator. Untuk sampah kota, insinerator dianggap layak bila selama pembakarannya tidak membutuhkan subsidi enersi dari luar. Sampah harus bisa terbakar dengan sendirinya, atau paling tidak memiliki nilai kalor sebesar 1500 Kcal/kg. Enersi panas dari sebuah insinerator di negara industri sudah banyak yang dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti untuk pemanas kota di musim dingin atau pembangkit tenaga listrik.

Sampah juga merupakan sumber biomas sebagai pakan ternak atau pakan cacing. Sisa-sisa sayuran, buah-buahan dan makanan lainnya sangat cocok untuk dijadikan makanan cacing. Dari upaya ini akan dihasilkan vermi-kompos yang berasal dari casting-nya serta biomassa cacing yang kaya protein untuk makanan ternak serta kegunaan lain.

Saat ini pengelolaan sampah di kota-kota di Indonesia belum menjadi prioritas dari sekian banyak permasalahan kota yang harus ditangani. Yang jelas pengembangan teknologi yang sesuai dengan kondisi Indonesia perlu digalakkan, khususnya yang mudah beradaptasi dengan kondisi sosio-ekonomi masyarakat Indonesia. Teknologi yang berbasis pada peran serta masyarakat juga perlu mendapatkan prioritas, agar keterlibatan mereka menjadi lebih berarti dan terarah dalam penanganan sampah untuk menghasilkan kembali sesuatu yang bermanfaat.

 

CONTOH SUKSES PENGELOLAAN SAMPAH

Pengelolaan Sampah Terpadu Kab. Sragen – Jawa Tengah

Pada tahun 1995 dilakukan upaya pemilahan sampah pada sumber oleh Dinas Tata Kota dan Kebersihan Kab. Sragen. Dimulai dengan pembelian sampah yang memiliki nilai jual seperti plastik, kertas, dan kaca dari rumah tangga oleh dinas. Maksud dan tujuan adalah untuk membangun minat pihak swasta agar tertarik kepada sampah rumah tangga yang sesungguhnya memiliki nilai ekonomi.

Kini sampah yang dipilah oleh warga telah dibeli pihak swasta dengan harga Rp 500 – 1000/kg  untuk sampah kresek, Rp 250/kg untuk sampah kaca, dan Rp 5000/kg untuk sampah botol plastik air mineral. Oleh pihak swasta sampah ini dijual kembali ke pabrik mengolah barang daur ulang, baik di Kota Sragen maupun ke luar kota.

Hasil yang dicapai dari kegiatan pengelolaan sampah terpadu di Kab. Sragen adalah meningkatnya kualitas lingkungan dan masyarakat, terlindungnya sumber daya alam, serta berkurangnya volume sampah.

 

Pengelolaan Sampah Mandiri Ala Sukunan (Sleman – Yogyakarta)

Berasal dari inisiatif dan niat baik salah seorang warga Sukunan (Iswanto, Dosen Poltekkes Yogyakarta) untuk mengubah pola pengelolaan sampah menjadi pola baru dengan metode 3 R. Inisiatif ini mendapat dukungan Australian Consortium For In Country Indonesian Study (ACICIS) yang mengucurkan dana sebesar Rp 17,5 juta untuk memulai kegiatan pengelolaan sampah mandiri pada tahun 2004.

Aktifitas pengelolaan sampah terpadu berupa kegiatan pemilahan, daur ulang dan komposting dilaksanakan di lingkungan permukiman. Penduduk kerap membuang sampah ke jalanan sehingga mencemari lingkungan. Maka proses yang melibatkan masyarakat ini harus melalui tahapan yang cukup panjang dulu. Pendekatan kepada masyarakat dilakukan mulai dari ibu PKK, pemuda dan murid-murid sekolah.

Hasilnya kini pemilahan sampah sudah menjadi bagian hidup masyarakat. Selain itu masyarakat juga berhasil meningkatkan ekonomi melalui penjualan produk-produk daur ulang. Kebutuhan operasional dan pemeliharaan kini sudah dapat dilakukan dari kas bersama.

Tags: future city, recycle, daurulang