14 - 24 September 2017

ICE - BSD CITY

Menakar Kunci Keberhasilan Penerapan Kota Cerdas

Konsep Smart City atau Kota Cerdas marak diadopsi oleh berbagai kota di dunia termasuk di Indonesia. Bahkan pemerintah pun membuat gerakan menuju 100 Smart City dengan menandatangani MoU antara perwakilan Pemerintah Pusat bersama 25 kepala daerah yang terpilih pada tahap pertama. Untuk dua tahun lagi, ditargetkan akan dipilih 75 kota/kabupaten lagi. Total, tahun 2019, diharapkan akan terbentuk 100 kota/kabupaten smart city.

"Namun saya tak yakin 25 kota tahap pertama sudah masuk kategori Kota Cerdas," kata Ketua Asosiasi Prakarsa Indonesia Cerdas (APIC) Suhono Harso Supangkat dalam dalam konferensi Indonesia Future City & REI Mega Expo 2017 di ICE, BSD, Tangerang.

Menurutnya Kota Cerdas bukan sekadar kota yang dijejali dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) semata. Namun Kota Cerdas adalah kota yang dapat mengelola berbagai sumber dayanya secara efektif dan efisien untuk menyelesaikan berbagai tantangan kota menggunakan solusi inovatif, terintegrasi, dan berkelanjutan untuk menyediakan infrastruktur dan memberikan layanan-layanan kota yang dapat meningkatkan kualitas hidup warganya. "Dan itu sulit diwujudkan dalam satu dua tahun saja," ungkapnya.

Lebih jauh untuk memahami lebih jauh tentang Kota Cerdas perlu mengetahui lebih dulu komponen apa saja yang menopangnya. Ada resources yakni sesuatu yang tersedia, dapat digunakan sebagai sumber.

Selanjutnya enabler adalah suatu sumber daya, teknik, metoda, perangkat, teknologi, infrastruktur atau apapun yang dapat digunakan sebagai pemungkin untuk membantu melakukan suatu proses/aktivitas. Termasuk enabler adalah smart people, smart governance serta smart infrastructure and technology.


Lalu ada proses yang merupakan inisiatif atau kegiatan-kegiatan yang dilakukan dengan dukungan enabler. Wujud dari proses ini berupa smart social, smart economy dan smart environment.

Ia menjelaskan kunci keberhasilan menuju Smart City adalah penerapan seluruh komponen model secara holistik. Jika sumber daya tidak memungkinkan untuk menerapkan secara holistik, maka prioritas penerapan adalah: (1) enabler, diikuti (2) proses atau inisiatif.

Enabler adalah komponen kunci untuk menjamin ketercapaian berbagai proses Smart City (Smart-Health, Smart-Education, dan sebagainya). Banyak kota yang terjebak fokus hanya pada proses atau inisiatif, tetapi mengabaikan enabler-nya. Akibatnya, tujuan proses tidak tercapai secara efektif.

Sebagai contoh, katakanlah sebuah kota sudah memiliki mass rapid transportation (MRT), tetapi kemacetan masih saja terjadi. Letak kesalahannya karena tidak ada upaya untuk memperbaiki perilaku manusia untuk meninggalkan moda transportasi lainnya dan beralih menggunakan MRT.

Perlu diketahui pemilihan 25 kota/kabupaten smart city ini sangat ketat. Mulai dari proses assessment yang mengukur kesiapan visi, regulasi, SDM, serta potensi di tiap daerah. Penilaian ini dilakukan oleh tim ahli yang terdiri dari elemen pemerintah, swasta, dan akademisi.

Adapun 25 kota/kabupaten peserta Gerakan Menuju 100 Smart City tahap satu adalah: Kota Semarang, Kabupaten Sleman, Kota Singkawang, Kota Makassar, Kota Bogor, Kota Tomohon, Kabupaten Badung, Kabupaten Siak, Kabupaten Mimika, Kabupaten Gresik, Kota Jambi, Kabupaten Sidoarjo, Kota Bandung, Kota Cirebon, Kota Bekasi, Kabupaten Purwakarta, Kota Sukabumi, Kota Samarinda, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kota Tangerang, Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Banyuwangi.

Tags: IFC & REI Mega Expo 2017,Indonesia Future City,event Tangerang, pameran properti Indonesia,smart city,smart people, smart governance serta smart infrastructure and technology.