14 - 24 September 2017

ICE - BSD CITY

Merancang Smart Mobility untuk Mendukung Smart City

Pengertian Smart mobility (pergerakan yang pintar)  adalah sistem pergerakan yang memungkinkan pencapaian tujuan dalam hal ini transportasi  dengan pergerakan sesedikit mungkin (less mobility), dengan hambatan serendah mungkin (move freely) dan waktu tempuh sesingkat mungkin (less travel time).  Kata lainnya smart mobility adalah sebuah konsep pemanfaatan teknologi dalam bidang transportasi secara berkelanjutan dengan meminimalkan dampak sosial dan ekonomi serta kecelakaan berkendara yang berpotensi di timbulkan.

Konsep smart mobility ini memiliki karakteristik dengan memanfaatkan solusi teknologi informasi dan komunikasi (ICT) ,terintegrasi, berkesinambungan dan aman.

Beberapa penerapan smart mobility yang saat ini menjadi trend diantaranya, integrasi multimoda yang nyaman, aman dan berkelanjutan dengan dukungan teknologi ICT, sharing transportasi dengan orientasi mengurangi jumlah seat kosong, digital experience oleh masyarakat seperfi untuk ticketing, akses informasi, routing , map dan lainnya, informasi yang real time dan relevan misalnya soal jadwal, arus lalu lintas dan info incident.

Goal yang ingin dicapai dari pengembangan konsep smart mobility ini adalah tahun 2025 tercapai masyarakat yang merasa tidak perlu lagi memiliki kendaraan pribadi.

Sedangkan sasaran dari konsep Smart Mobility ini adalah mengatasi permasalahan transportasi, terutama transportasi publik. Salah satu contoh penerapan smart mobility, dibidang perparkiran jika dulu permasalah perparkiran di atur dengan alokasi slot parkir, pemberian karcis dan menggunakan juru parkir. Dengan konsep smart maka mulai digunakan teknologi mesin parkir baik dengan koin, online atau record yang termonitor dan tercatat waktu parkirnya.

Sedang di bidang traffic management maka yang semula pengaturan lalu lintas menggunakan traffic warden, sistem contra flow dan melalui pembatasan kendaraan dengan metode ganji genap dan  three in one. Maka penggunaan solusi cerdasnya, pengaturan dilakukan dengan Electronik Road Pricing (ERP),  pemasangan CCTV dan video analytic. Juga penggubaab ATMS dan Crow analytic dengan menggunakan LBS (data pengguna simcard).

Pengelola jalan tol misalnya, mereka saat ini telah menerapkan Inteligent Transport System (ITS). Alasannya karena volume kendaraan yang semakin tinggi, jaringan jalan yang semakin besar akibatnya kemacetan, kecelakaan dan sebagainya. Sementara infrastruktur  yang ada saat ini tidak lagi bisa diandalkan sehingga perlu dukungan ICT dan ITS.

"Tujuan penggunaan  ITS adalah untuk menciptakan layanan tol yang efektif, efisien , informastif, aman, nyaman dan berkelanjutan," ujar Herry Trisaputra Zuna saat diskusi bertema Smart Mobility and Logistic, dalam acara Indonesia Future City and REI Expo 2017 di ICE BSD.

Sistem ITS sendiri  menurutnya berisi tentang sistem informasi jalan tol, transaski tol non tunai, sistem pengendalian angkutan darat, sistem informasi keadaan darurat, sistem manjemen aset dan sistem ruang kendali.

Sedang di dunia logistik menurut Direktur Utama Pos Logistic, Yusron Erman,  juga sangat gencar di biidang infrastruktur teknologi. Menurutnya trend sosial bisnis memaksa  perusahaan untuk mengubah proses bisnis.

Contoh penggunaan teknologi di dunia logistik diantara, augmented reality, big data, cloud logistics, internet of things, low cost sensor maupun robotic dan automation.

Menurutnya ekosistem di industri logistik sudah menuju ke smart mobility. "Isu yang dihadapi adalah jumlah penduduk yang makin banyak di kota, sehingga logistik belum stabil. Sementara industri e-commerce semakin masih jumlah konsumen belanja online juga meningkat," ungkap Yusron dalam kesempatan yang sama.

Tags: IFC & REI Mega Expo 2017,Indonesia Future City,event Tangerang,pameran properti Indonesia,smart city,traffic management,Inteligent Transport System,Electronik Road Pricing