14 - 24 September 2017

ICE - BSD CITY

Pasar Online Mitra Pasar Tradisional




Pada tahun 2015 pemerintah kota Bandung membuat terobosan cara berbelanja di pasar dengan meluncurkan aplikasi Harga Pasar Online. Aplikasi berbentuk web ini dapat dimanfaatkan oleh warga bandung untuk memantau harga-harga sembako di pasar serta efektif mencegah naiknya harga secara tiba-tiba.

Lalu pada tahun 2016, Bandung Smart Card yang tadinya hanya untuk pembayaran transportasi bus Trans Metro Bandung, diperluas penggunaannya untuk berbelanja di kios-kios pasar tradisional melalui kerjasama dengan PD Pasar.

Juga pada tahun 2016 Dinas Pasar kota Ternate membangun aplikasi Android untuk memfasilitasi pedagang sehingga masyarakat dapat berbelanja secara online. Selain itu pembeli juga bisa melihat daftar harga kebutuhan pokok yang selalu ter-update.

Sementara update dari pemerintah kota Surakarta, hingga bulan Juni lalu lima pasar tradisional telah menerapkan sistem pembayaran retribusi elektronik (e-retribusi). Sistem ini membuat pembayaran retribusi lebih efisien, transparan, serta mencegah penyimpangan. Diharapkan juga cara ini dapat menumbuhkan budaya menabung di kalangan pedagang tradisional, dan secara tidak langsung mendekatkan pedagang dengan kalangan perbankan sehingga lebih mudah mengakses permodalan.

Gambaran di atas adalah contoh-contoh inovasi yang diterapkan dalam rangka kota menuju smart city. Namun untuk menjadi smart city bukan berarti pasar tradisional harus berubah menjadi pasar online yang menggunakan sistem belanja online. Ada kebutuhan untuk melindungi pasar sebagai wadah penggerak ekonomi rakyat.

Pasar tradisional dinilai tetap dibutuhkan karena budaya masyarakat Indonesia yang menyukai interaksi dalam berbelanja. Meskipun informasi tentang gaya hidup modern sudah sangat meluas, tetapi masyarakat masih memiliki budaya untuk tetap berkunjung dan berbelanja ke pasar tradisional. Di pasar tradisional masih terjadi proses tawar-menawar harga. Hal inilah yang dikhawatirkan jika jual beli beralih ke online semua, maka pasar dan toko-toko akan sepi.

Di lain pihak perkembangan perdagangan sistem online amat sangat menolong UKM (Usaha Kecil dan Menengah) untuk memasarkan produknya dengan cara yang lebih efisien. Terutama pada era digitalisasi ekonomi saat ini, dapat memberikan manfaat bagi perluasan jaringan pemasaran/kemitraan (networking), promosi produk, serta meningkatkan akses pasar.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa peran teknologi digital akan menjadi business enabler bagi pelaku UKM. Akan tetapi UKM tidak perlu 100 persen hijrah ke sistem online. Namun pelaku UKM harus dapat mengadopsi teknologi digital dalam proses bisnisnya, disesuaikan dengan situasi dan kondisinya masing-masing.

Pelaku UKM yang ingin mempelajari serta mengimplementasikan strategi menjual secara online harus memperhatikan tiga fenomena untuk melakukan transformasi digital. Ketiga fenomena tersebut adalah:

1.   Konsep the more digital, the more global. Semakin digital, maka secara langsung UKM berada dalam satu titik di dunia global. Dunia menjadi tanpa batas. Segala aktifitas UKM melalui teknologi digital menjadikannya bagian dari aktiftas global.

2.   The more digital, the more professional. Teknologi digital akan menjadikan UKM semakin profesional. Gadget membantu UKM mengakses beragam informasi dan mempermudah analisa dalam memutuskan sesuatu. Teknologi digital juga dapat mempersingkat proses birokrasi, sehingga akan semakin efisien dan efektif.

3.   The more digital, the more personal. Terjadi semacam paradoks, ketika teknologi digital menyediakan ruang bersosialisasi yang lebih luas, pada saat bersamaan masyarakat semakin ingin dilayani secara personal. Ini sebagai akibat dari data diri yang semakin transparan. Segalanya menjadi terbuka.

Dengan memahami ketiga fenomena diatas, besar kemungkinan aktifitas bisnis UKM akan berhasil. Ketiga fenomena tersebut menjadi acuan UKM untuk bertransformasi secara digital di dalam pengelolaan bisnis, dan menciptakan peluang pasar baru.(*)

Tags: future city,online market, pasar online